Tulisan ini adalah sedikit celotehan polos saya sebagai seorang anak yang masih belum banyak merasakan asam garam kehidupan dalam ikatan.. Sebuah tulisan yang belum sempat tersampaikan
Malam-malam di tanggal 21 Juni 2016 (semoga tidak salah)..
Bismillah..
Mbak2 dan mas2, ini saya mau
crita aja, curcol paling ya.. tentang imm, kenapa ya kok kader imm yang awalnya
banyak makin kesini makin dikit (sepertinya), dan kayaknya yang ada cuma itu2
aja, yang aktif cuma itu2 aja.. Semua juga udh tau itu kayake..“uswah aktif
pooo?” Not really.. gak juga sih.. nek boleh dibilang ya kadang semangat ber
imm itu naik turun , kadang males juga di imm tp kadang juga pengen maen2 di
imm.. “wah, uswah peduli niih..” gak juga, kadang saya juga gak peduli kok, jujur
saja..ada saatnya dmna saya juga merasakan itu, tp ya gak juga terus2an kayak
gitu jga sih, kadang amanah di imm juga memanggil2. Mungkin temen2 disini juga
pernah merasa seperti itu.
Disini ada banyak mbak2 dan mas2
yang jauh lebih senior dari saya ,jadi sepertinya lebih tahu imm yang dulu2 spt
apa daripada saya.. hehe
J
Menurut saya, kenapa kok kader imm bisa sperti itu .. itu bisa jadi kebiasaan
kita di imm. Misalnya, kadang kalau rapat atau acara apa2 mesti telat alias
molor, dan molornya bisa sampai sejam atau dua jam (atau bahkan lebih).
Karetnya sungguh sangat elastis. Hhehe.. “uswah always ontime po?” tentu saja
tidak, karena kadang saya berpikir ‘paling juga belum ada yang datang, belum
mulai’.. (ini saya beneran lho mesti mikir kayak gitu) tapi kalau semua mikir
kayak gitu lantas siapakah yang akan mengawali? Pas awal-awal jadi kader baru,
sepertinya pikiran ‘paling juga belum ada yang datang’ itu kayaknya gak ada
(kayaknya lhoo, tapi saya lupa), tapi stelah beberapa lama ada di pk..yaa
pikiran itu datang..hehe.. mungkin karena kebiasaan dan sudah siklusnya seperti
itu..klo udah smakin tidak kader baru lagi ya smakin santai (tidak semua kader
imm kayak gini). Tapi apakah yang namanya siklus itu harus seperti itu? .tapi
saya gak bisa asal menyalahkan, kadang kenapa terlambat dan kenapa belum bisa
dimulai tepat waktu ya karena ada alasan tertentu yang menjadikan itu belum
bisa dimulai (???) intinya gitu. Bingung bilangnya. Nah, berkaitan sama masalah
molor dan telat ini.. ini nih kenapa saya pengen crita disini, selepas musykom
abad tadi ada temen saya (temen kita) yang bilang ke saya.. intinya setelah
kita ngobrol2 trus nyambung2 bilang kalau beliau ini sdh tdak di imm lagi dan
sudah berpindah haluan di pergerakan sebelah karena kalo di imm sukanya molor
waktunya (tiga jam lagi). Mungkin mbak2 dan mas2 sdah banyak menemukan temen2
yang seperti ini. Kayaknya biasa aja sih, tapi bagi saya.. karena orang ini
langsung bilang ke saya dan ini saya pertama kali ada yang bilang ke saya ..ya
itu kan giman gitu jadinya..sedikit shock ,haha (oooh, jadi yang kayak gitu
beneran ada po? ‘ya iya lah). saya kan jadi menduga2 ‘jadi selama ini dia gak
pernah pake jaket imm di kampus tuh karena itu to’..tapi kan ya gak juga, malah
suudzon kan, ada saatnya jaket imm itu dicuci, dijemur, disetrika, dilipat,
trus dimasukin lemari (dan gak pernah dikeluarin lagi..*eh)..gak mungkin kan di
pake terus –ini intermezzo ajah hhe.. mungkin, pergerakan lain punya sesuatu
yang membuat nyaman buat beliau ini yang tidak ditemukan di imm, penghargaan
terhadap waktunya itu lho (mungkin). Salah po kalo berpindah haluan? Ya tidak
juga sih sepertinya, masing2 punya pilihan dan berhak milih kan. Lagian, kan
enak bisa dititipin surat undangan Stadium General Musykom buat eksternal nya,
hhe. Pada intinya, kenapa sih yang baik itu tidak kita ambil saja. Meski susah
sepertinya, memang. Saya juga masih belajar, karena saya memang sukanya
telatan.. telat kuliah, telat masuk asrama, telat rapat, dan lain sebagainya
(buka kartu ..hmm). tapi, sepertinya beliau ini Cuma bercanda kok..tidak benar2
keluar dari imm atau muhammadiyah.. emangnya, klo yg bener2 kluar dr imm itu yg
gimana to? Caranya gimana to? Apa karena gak pernah datang ke imm lgi trus
dianggap (*kita anggap) udah kluar dari imm? Hmm.. secara strukturalnya aja
yang sudah gak di imm, tapu secara kultural masih ber muhammadiyah kok ..hehe..
calm down guys
J
Saya sering denger dari temen2 klo ada temennya yang bilang ‘udah gak enakan
lagi klo mau main ke imm, kan aku udah gak pernah keliatan, gak pernah ikut
rapat..’ temen saya juga ada kok yang bilang gtu. Yang disini mungkin juga
pernah ada yang temennya gtu, saya juga pernah ngrasa gtu . hmm.. mungkinkah
ada yang salah dengan kita ketika memandang teman2 yang jarang kita jumpai di
imm? Memandang dalam arti yang sebenarnya maupun dalam arti yang lainnya.
Mungkin secara tidak sadar pandangan, lirikan, kedipan, sorotan mata, tengokan,
gelengan, anggukan, ekspresi, sikap, tingkah, ucapan, nada, intonasi suara dan
perbuatan maupun gojekan alias guyonan kita membuat teman2 kita yang jarang
kelihatan ini merasa tidak nyaman bahkan tersinggung. Nah, sebenarnya..
bagaimana sih meyakinkan temen2 kalo imm tuh terbuka buat semuanya, mau gak
pernah dateng kek dateng terus kek.. imm masih menerima kok, membutuhkan malah.
Kembalilah ,kita ini keluarga, mau kamu jarang pulang kek, atau sedikit2 pulang
kek.. kembalilah, pintu ini terbuka buat semuanya.. hehe. Atau gimana ya
bahasanya. “uswah gak pernah nyinggung po?” haduh gimana ya., ya pernah dong
(kok bangga ya?) malahan saya merasa membuat orang salah sangka dengan ekspresi
saya yang jutek judes gak bisa bohong kalo lagi capek tegang serius nglamun
bingung bengong ngrasa udah senyum padahal belum atau Cuma setengah2 gak
ikhlas(gak bawa kaca sih) dan lain sebagainya (buka kartu..*lagi), kan bisa
saja saya menyinggung teman2. Maafkan saya ya. Khilaf. Manusiawi... sebagai
orang yang (mungkin) pernah juga jarang dijumpai di imm, gak bisa juga klo kita
terus2an nyalahin orang lain dgn cara mereka menyambut kita yng mungkin kita
gak nyaman.. jangan lekas suudzon. nah klo sudah gini mungkin kita akan mencari
tempat2 yang lebih nyaman untuk disinggahi,. Bukan berarti kita tdk boleh punya
rumah lain, hanya saja..sadarkah anda bahwa asap dapur rumah ini juga perlu
untuk dikepulkan? Rumah ini juga butuh kamu.. iya kamu.. “uswah udah
mengepulkan asap dapur rumah imm?” tidak juga, cara mengepulkan asap gimana
juga masih belajar.. sama2 belajar untuk bertahan dirumah ini dengan berbagai
macam penghuni yang punya wajah berbeda satu sama lain yang otomatis ekspresi
nya juga beda, udah gtu aja. Hoho
J
Sebagai anggota keluarga, mesti kita membutuhkan orang atau sosok yang bisa
dijadikan panutan maupun yang bisa mengayomi, ada di saat suka maupun duka
(*alay). Iya gak sih? Klo menurut saya sih iya, beberapa temen juga sepertinya
berpendapat sama. Jika boleh saya sedikit bercerita, mungkin nantinya akan ada
sedikit pembandingan (mohon maaf sebelumnya), ketika berada di keluarga
internal kampus (terutama di keluarga kerohanian islam) kita bisa benar2
menjadi adik yang diayomi dibina diajari meskipun terkadang juga sikap yang
seperti itu klo terus2an juga tidak nyaman. Sedangkan di keluarga imm ini, kita
benar2 belajar untuk mandiri dan menjadi pribadi yang benar2 tangguh luar biasa.
Kita dituntut (aduuh, bukan dituntut juga sih bahasanya, diharuskan … atau
terpaksa yaa?.. ah tau lah ,,intinya itu) kita dituntut untuk bisa melakukan
sesuatu sendiri, ..bukan berarti apa2 lho ya. Mungkin, ini memang salah satu
jalan sebagai penyeimbang, dimana di satu tempat kita diberi sikap demikian dan
di lain tempat kita dituntut untuk bisa bersikap demikian.. haduh gak jelas ya
..hhaha. tapi justru disinilah saya jadi bisa belajar untuk menjadi generasi
yang mandiri dan tidak manja (meski belum sempurna.. tsssaahhh). Pada intinya,
segala sesuatu itu memang ada kurang dan lebihnya tinggal bagaimana kitanya
yang dapat menyikapi dan mengambil hikmah.
*mohon maaf karena merk yang tersebut, semoga menjadi bahan evaluasi terutama bagi diri saya sendiri
love you guys.. hoho
Tidak ada komentar:
Posting Komentar