Kamis, 09 Februari 2017

Ayah

Mungkin kau akan berpikir aku adalah orang yang paling beruntung di dunia. Kehidupan yang serba berkecukupan bahkan terbilang mewah dan juga keluarga yang menyenangkan. Segala fasilitas yang aku butuhkan selalu tersedia, tak pernah kekurangan.
            Tapi itu semua jika kau melihat dari luar saja dan saat kau tahu bagaimana keadaanku yang sebenarnya,  aku hanyalah seseorang yang begitu rapuh. Apalagi saat kejadian-kejadian menyesakkan itu datang bertubi-tubi, aku semakin merasa kalau aku bukanlah apa-apa.

...

            Pagi itu seperti pagi-pagi biasanya, aku duduk di depan meja makan sambil mengutak-atik kameraku.
            “ Kau jadi ikut lomba fotografi itu, Dim?” tanya Tara, saudaraku.
            “ Begitulah,” jawabku tanpa sedikitpun menoleh padanya.
            Untuk beberapa saat, hening. Tak ada suara di antara kami hingga ayah mulai berbicara, lebih tepatnya berpidato atau mungkin berceramah... entahlah. Aku tak begitu peduli.
            “ Dim, sebaiknya kau jangan bermain-main lagi dengan kameramu itu, perhatikan belajarmu. Sebentar lagi kau ujian, ayah harap kau tahu apa yang harus kau lakukan.”
            “ Ini hobi yah, dan Dimas tahu apa yang harus Dimas lakukan,” jawabku ketus.
            “ Ayahmu benar Dim, jangan sampai kau mengesampingkan belajarmu,” bundapun ikut menambahkan. Aku semakin tak peduli dengan semua ucapan mereka.
            “ Mengherankan sekali, kenapa kalian sangat berbanding terbalik padahal kalian itu saudara kembar. Tara selalu bisa menghasilkan sesuatu yang membanggakan, prestasi yang baik, dan ayah pikir dia bisa mendapat beasiswa ke luar negri. Tapi coba lihat dirimu Dim, kau sangat jauh berbeda dengan Tara. “
            “ Yah,” bunda memotong ucapan ayah yang semakin lama semakin membuat hatiku panas. Tapi ayah tak menggubris dan tetap mencelaku habis-habisan.
            “ Yang kau tahu hanyalah menghambur-hamburkan uang ayah untuk hal yang tak berguna, untuk hobi konyolmu itu yang bahkan tak menjamin masa depanmu besok.”
            “ Fotografer yah, Dimas mau jadi fotografer. Dan asal ayah tahu, ini bukan hanya sekedar hobi konyol. Ini impian yah,” sanggahku sinis.
            “ Impian macam apa itu! Kau pikir ayah menyekolahkanmu untuk jadi apa?! Dokter, dosen, arsitek, apa saja asal jangan menjadi seseorang yang tidak jelas tujuannya. Yang ayah minta darimu hanyalah belajar Dim, ayah rela membelikanmu berapapun kamera  asal kau mau belajar. Jangan hanya malas-malasan! Mengerti!”
            “ Sudahlah yah, sabar,” bunda menggenggam tangan ayah. Tampak sedikit bergetar.
            “ Ayah harap kau bisa bercermin pada Tara, kakakmu. Contohlah dia, jadilah seperti dia!”
            “ Cukup ayah!” Tara yang sedari tadi diam terpaku akhirnya angkat bicara. Ia mencoba membelaku, tapi bagiku itu lebih seperti pembelaan pada dirinya sendiri agar aku tak menyalahkannya. Tapi tetap saja, aku tak peduli.
            Aku segera menghambur keluar dari ruang makan yang sudah serasa seperti neraka itu. Aku muak dengan semua omongan ayah, hanya ada Tara, Tara, dan Tara. Ayah pikir aku tak punya perasaan?!
            “ Dimas, tunggu!” Tara berteriak tepat sebelum aku melaju dengan motorku. “ Kau tak perlu mendengarkan semua ucapan ayah, yang perlu kau lakukan hanyalah menjadi dirimu sendiri.”
            “ Apa pedulimu!” aku segera menancapkan gas dan tak peduli lagi dengan teriakan-teriakan Tara.

...

            Di sepanjang jalan aku hanya memikirkan ucapan ayah saat sarapan tadi. Terkadang aku bertanya-tanya kenapa ayah begitu bangga pada Tara dan begitu kecewa padaku. Tentu saja aku tahu benar jawabannya. Tara begitu sempurna di mata ayah sedangkan aku, apapun yang kulakukan selalu dianggapnya sebagai suatu kesalahan. Hanya saja yang tidak pernah ku tahu, kenapa ayah begitu  membenciku? Kenapa harus aku yang ayah benci?
            Dan perkataan ayah pagi tadi... Sebenarnya aku sudah terbiasa mendengar omelan-omelan ayah tiap hari. Tapi hari ini, omelan-omelan itu berubah menjadi cacian. Ia begitu membanding-bandingkan antara aku dengan Tara. Aku tak menyangka ayah begitu teganya meluncurkan kata-kata yang sangat mengena dari mulutnya.
            Menghanbur-hamburkankan uang, hobi konyol, orang yang tak jelas tujuannya, pemalas. Apakah aku memang benar seperti itu? Atau aku terlalu egois hingga tak menyadarinya?
            Tapi, kenapa ayah tak pernah bisa mengerti?
            Aku tak bisa menjadi Tara, menjadi seperti Tara pun aku tak bisa. Meski kami adalah saudara kembar, kami memiliki pribadi yang berbeda. Begitu pula dengan perlakuan ayah terhadap kami, sangat jauh berbeda sampai-sampai aku mengira kalau Tara telah merebut ayah dariku. Perhatiannya, kasih sayangnya, cintanya, dan segalanya.
            Hhh... Aku membiarkan pikiranku mengalir dengan sendirinya hingga tak terasa aku sudah berada di depan gerbang sekolah.

...

Aku sedang duduk-duduk di tangga sekolah ketika seseorang menepuk bahuku. Aku sedikit terlonjak kaget, seluruh lamunanku buyar juga pikiran-pikiran yang membuatku benar-benar pusing.
“ Hei,” sapanya. Seorang gadis, wajahnya masih terasa asing bagiku. “ Ini, terima kasih dan maaf aku terlambat mengembalikannya,” kata gadis itu sambil menyodorkan sebuah buku padaku.
“ Apa,” aku terheran-heran.
“ Ini, bukumu. Kau lupa?”
“ Buku? Buku apa?” alisku berkerut semakin heran.
“ Kau meminjamkannya padaku dua hari lalu. Apa kau benar-benar lupa?”
Sepertinya aku mulai mengerti. “ Baiklah, nanti akan kuberikan buku ini pada Tara,” aku mengambil buku dari tangan gadis itu.
“ Tara? Tunggu dulu, kau ini Tara, kan?” gadis itu terlihat bingung. “ Kau... saudara kembar Tara?”
“ Menurutmu?” aku beranjak meninggalkan gadis yang masih kebingungan itu. Aku berjalan menyusuri koridor sekolah sambil sesekali membidikkan kameraku jika ada hal-hal menarik yang bisa kufoto.
“ Kau benar-benar saudara kembar Tara?” gadis itu berusaha menjajari langkahku.
“ Kau pikir aku menipumu?”
“ Bukan begitu, tapi...” belum sempat ia selesai berbicara....
“ Dinda!” seseorang berteriak dari arah punggungku. Tara.
Tara berlari-lari kecil ke arah kami. “ Kalian sudah saling kenal?” katanya sambil tersenyum.  “ Kau mengenalnya, Dim?”
“ Maksudmu dia?” aku menunjuk gadis itu dengan daguku.
“ Ya, dia siswi baru disini. Rupanya kau belum mengenalnya, tapi wajar saja jika kau tak mengenalnya. Nama gadis-gadis di kelas kita saja kau tak bisa mengingatnya,” gurau Tara.
“ Hah?” gadis itu tertawa pelan. “ Kenapa begitu?”
“ Bagaimana bisa dia mengingat, setiap ada gadis yang mendekat saja dia selalu memasang wajah harimaunya. Menyeramkan.”
“ Hentikan bualanmu. Dan ini, ambil bukumu,” kataku lalu menyerahkan buku pada Tara acuh tak acuh.
“ Kalian lucu sekali,” gadis bernama Dinda itu masih tertawa. “ Kalau begitu, perkenalkan namaku Dinda. Kuharap kau bisa mengingatnya,” ia mengulurkan telapak tangannya padaku.
“ Dimas,” akupun menyambut uluran tangannya.
Inilah awal perkenalanku dengannya, Dinda. Menurutku dia gadis yang polos, tapi tingkahnya selalu bisa membuatku tersenyum. Dan setelah beberapa hari mengenalnya, sepertinya aku memiliki perasaan padanya meski hanya sebatas rasa simpati saja, atau mungkin lebih dari itu... entahlah. Hanya saja, aku merasa dia memberikan perhatian istimewa padaku.Atau mungkin dia memang selalu bersikap seperti itu pada semua orang, termasuk Tara.
Hhh... Aku rasa aku terlalu percaya diri menganggap ia perhatian padaku, mungkin ini pelampiasanku karena aku tak pernah mendapatkannya dari orang-orang terdekatku. Kasih sayang dan perhatian. Terutama dari ayah, ayah yang hanya memandangku sebelah mata.

...

            Hari-hariku berjalan seperti biasanya. Ya, seperti biasa omelan dan cacian ayah selalu menjadi menu utama sarapanku. Kurasa aku  mulai kebal dengan semua ucapan ayah, terserah apa yang dikatakannya aku tak akan peduli.
            Dan Tara, ia selalu mencoba membelaku tapi menurutku itu menyebalkan. Ia bertindak seperti pahlawan. Sok pahlawan. Namun, terkadang aku merasa diapun tak nyaman jika dilebih-lebihkan dihadapanku oleh ayah.
            Tak ada seorangpun yang bisa diandalkan di rumah. Kecuali bunda, dialah satu-satunya orang yang mengerti keadaanku. Bunda selalu mencoba membuat ayah mengerti tapi ayah tak pernah mau mendengarkan. Karena ayah egois, selalu memaksakan kehendaknya,  tak mau peduli terutama padaku, dan ayah selalu merasa kalau dia tahu segalanya meski harus kuakui dia memang lebih banyak makan asam garam kehidupan dibandingkan aku.
            Pernah suatu kali ayah memanggilku ke ruang tengah.
            “ Kenapa yah?” tanyaku sedikit tak berminat.
            “ Ini, ambillah,” ayah meletakkan sesuatu di atas meja. Kamera. “ Ini model terbaru, ayah harap kau menyukainya.”
            “ Apa maksud ayah?” aku merasa ayah menginginkan sesuatu.
            “ Ambil saja, ayah tak mau dianggap tak peduli pada anaknya. Jadi, ini untukmu,” ayah menggeser kamera itu padaku. “ Satu hal lagi, ayah harap kau lebih serius lagi untuk belajar. Karena ayah mau kau masuk fakultas kedokteran di universitas negri tahun depan.”
           Aku sudah bisa menduganya, rasanya tak mungkin ayah memberiku kamera dengan cuma-cuma. “ Maaf ayah, tapi aku sama sekali tak tertarik lagipula kameraku yang lama masih berfungsi dengan baik. Mungkin ayah bisa memberikannya pada Tara, bukankah dia lebih pantas? Lagipula masuk fakultas kedokteran itu pasti sangat mudah baginya,” kataku sinis. Aku menatap Tara sesaat dan beralih masuk ke kamar.
            Keesokan harinya Tara masuk ke kamarku dengan membawa kamera pemberian ayah.
            “ Mungkin suatu saat kau memerlukannya,” katanya sambil meletakkan kamera itu di atas meja. Ia berdiri memandangku sejenak lalu pergi.
            Begitulah, hubunganku dengan ayah tak pernah harmonis begitu juga hubunganku dengan Tara. Aku selalu merasa iri padanya, mungkin karena itulah aku selalu bersikap sinis padanya.
            Aku sempat berpikir kalau hidupku tak akan pernah berubah, tidak tenang. Tapi, sejak ada Dinda aku jadi berubah pikiran. Aku selalu merasa nyaman berada didekatnya. Bagiku, dia teman mengobrol yang baik. Dia mau mendengarkan semua keluhku. Aku tak tahu kenapa aku bisa nyaman menceritakan semuanya pada Dinda, termasuk soal perlakuan ayah padaku. Padahal sebelumnya, tak ada seorangpun yang bisa kupercaya. Entahlah, aku hanya butuh didengarkan.


            Dua bulan berlalu, kenyataan pahit itu akhirnya datang juga. Siang itu, dua orang polisi mendatangi rumah kami. Mereka membawa surat keterangan penahanan untuk ayah. Mereka mengatakan bahwa ayahku telah melakukan korupsi di perusahaan tempat ia bekerja.
           Saat itu juga aku ingin lenyap saja dari muka bumi. Awalnya aku tak percaya dengan semua ini, tapi ini nyata. Bahkan ayah sedikitpun tak mengelak saat kedua polisi itu memborgol tangannya.
            “ Maafkan ayah,” kata ayah sesaat sebelum ia pergi. Sama sekali tak merasa bersalah.
            Kami hanya menatap kepergian ayah dengan perasaan yang tak karuan. Bunda tak henti-hentinya menangis di pelukan Tara. Aku segera masuk kamar dan membanting pintu.
            Aku bingung, aku tak tahu apa yang kurasakan. Sedih, marah, kecewa, iba, entahlah. Aku hanya ingin semua ini berakhir, semua penderitaan ini hilang.
            Ayah yang selama ini selalu mendorong anak-anaknya untuk menjadi orang sukses, orang yang memiliki masa depan, ayah yang selalu menuntut kami menjadi sempurna di matanya ternyata adalah seorang koruptor. Seorang pelaku kriminal. Aku tak pernah membayangkan itu semua sebelumnya. Membayangkan bahwa harta yang ayah berikan pada kami adalah harta haram.
            Penderitaanku tak hanya sebatas itu saja, ternyata berita tentang korupsi ayahku sudah merembet ke sekolah. Aku tak tahu bagaimana itu terjadi. Yang jelas, aku dan Tara sekarang menjadi bahan bicaraan teman-teman sekolah. Mereka memandang kami seolah-olah kami ini penjahat. Bukankah yang korupsi itu ayah?


            Disinilah aku sekarang, berdiri sendirian di atas gedung sekolah. Mataku menatap kosong jalanan di bawah sana.
            “ Sedang apa?” tanya seseorang. Dinda.
            Aku menoleh. “ Tidak ada,” kataku sambil kembali menatap jalanan. Aku membidikkan kamera ke pemandangan di depan sana.
            “ Din, kenapa hidup itu begitu sulit?” tanyaku tanpa menoleh padanya.
            “ Jika kau merasa hidupmu begitu sulit, sebenarnya kau belum tahu saja kalau di luar sana masih banyak orang yang hidupnya jauh lebih sengsara darimu.”
            “ Cobaan itu begitu berat. Aku selalu bersabar mendengar semua cacian ayah, tapi sekarang, ternyata ayahku...” aku mendesah pelan, “ aku tak tahu lagi harus bagaimana.”
            “ Akupun pernah merasakan apa yang kau rasakan sekarang. Merasa kenapa Tuhan memberi cobaan seperti ini. Tapi aku selalu mencoba meyakinkan diriku, bahwa hanya diri kita sendirilah yang mampu menghadapinya. Bukan orang lain.”
            “ Lalu, apa yang harus kulakukan,” tanyaku datar. Pandanganku menerawang jauh.
            “ Jalani saja. Jalani hidupmu seperti air mengalir.”
            “ Maksudmu, pasrah?” aku menoleh heran padanya.
            Dia tersenyum. “ Jalani hidupmu seperti air mengalir. Air yang punya energi, punya   kekuatan. Jika kau harus mendaki bukit, maka dakilah.”
            Akupun tersenyum padanya, aku mulai mengerti apa maksud ucapannya.
            “ Berusahalah, Dim. Lakukan yang terbaik apapun yang terjadi. Jangan pernah terpuruk karena keadaan. Yakinkan dirimu.”
            “ Terima kasih, Din.”
            Hatiku kini sedikit lebih lega. Perkataan Dinda memberiku semangat untuk bangkit lagi. Dinda benar. Tak ada gunanya meratapi hal yang sudah berlalu, yang perlu kulakukan sekarang adalah memperbaiki untuk hari esok.
            Kuatkan diri dan berusaha, aku yakin aku bisa menghadapi segalanya. ~



Tulisan Masa SMA 
*tugas bikin cerpen


1 komentar:

  1. Cerpen bagus.. Kunjungi blogku jg yaa.. Http://www.ipungberjuang.Blogspot.co.id

    BalasHapus