Teruntuk
Sang Hati
(Sumber: www.vemale.com)
Bersama keheningan,
Selamat malam wahai hati..
Bagaimana kabar hati? Bagaimana kabar jiwa? Semoga Tuhan
senantiasa menguatkan dan membimbingmu J Amiin..
Untuk kali ini, bukan surat teruntuk siapa yang
ingin aku tulis. Hanya ingin sedikit berbagi, entah kepada siapa kelak surat
ini akan dibaca. Hanya ingin berbicara kepada hati, entah hati siapa kelak yang
akan mendengarnya. Hanya ingin berbagi, itu saja.
(Sumber: abiummi.com)
Wahai hati,
Masihkah kau memikirkan tentangnya? Tentang beliau
yang selama ini selalu kau elu-elu kan. Tentang rasa yang mungkin kau masih
baru merasakannya, disaat teman-teman seusiamu telah memiliki rasa itu jauh
sebelum dirimu. Masihkah?
Wahai hati,
Masihkah kau menduga-duga? Menduga apakah beliau
pun memiliki rasa yang sama. Menduga apakah rasa itu adalah takdirmu kelak.
Masihkah?
Wahai hati,
Ingatlah, masih ada Tuhan tempatmu meminta. Meminta
segala petunjuk dan kebenaran. Jangan sampai kau lupa terhadap-Nya. Ingatlah,
masih ada mimpi dan cita yang harus dikejar. Masih ada harapan dari orang-orang
yang menanti kesuksesanmu. Dan ingatlah, masih ada diri yang menunggu untuk
diperbaiki. Masih ada diri yang menunggu untuk dipantaskan. Itulah dirimu.
(Sumber: abiummi.com)
Wahai
diri,
Jikalau
memang beliau adalah teladan bagimu, benar-benarlah meneladaninya. Kecerdasan,
keramahan, dan kesederhanaan yang ada dalam dirinya. Namun, jika rasa yang kau
simpan untuknya malah membuatmu semakin lupa akan kewajiban sebagai penuntut
ilmu, berarti kau belum benar-benar menjadikannya sebagai teladan. Dan,
berhati-hatilah. Segera buang rasa itu. Mungkin itu penanda bahwa rasa yang kau
miliki adalah rasa yang salah. Bukan rasa yang Tuhan anugerahkan kepadamu,
melainkan rasa itu muncul dari nafsu dan godaan syaitan belaka.
Wahai hati,
Janganlah kau terlena. Janganlah kau tertipu.
Terlena dan tertipu oleh nafsu yang mengatasnamakan rasa ini. Rasa yang mungkin
mulai membuatmu ketakutan. Takut jika ini semua adalah kesalahan. Takut jika belum
saatnya rasa ini untuk ditempatkan. Takut jika rasa ini bukan rasa yang benar,
bukan rasa yang datang dari-Nya. Takut jika rasa ini hanya berasal dari nafsu
belaka yang berselimutkan kata rasa. Kau pun mungkin tak berani menyebutnya.
Takut jika rasa ini membuatmu berfikir terlalu jauh ke depan tanpa ada usaha
apapun untuk memantaskan diri untuk berhak merasakan rasa.
Wahai
hati,
Sibukkanlah
diri dengan hal-hal yang baik dan positif. J
(Sumber: www.katakatagambar.com)
Teruntuk Sang Pemiliki Hati, ‘Ini sedang mendoa,
entah siapa nama dalam doa. Ini sedang merindu, entah siapa yang ada dalam
rindu.’
Yogyakarta, 31 Mei 2016
09:32:00 PM
ttd
Sahabat Sang Hati




kok aku bisa nulis ini ya? ahahay
BalasHapusbtw.. ini adalah naskah artikel (sebut aja surat) yang aku ikutsertakan dalam salah satu lomba menulis artikel yang bertemakan "Cinta"
kok di posting? biar .. ehehehe