Rabu, 13 Juli 2016

Teruntuk Sang Hati

Teruntuk Sang Hati


(Sumber: www.vemale.com)

Bersama keheningan,
Selamat malam wahai hati..
Bagaimana kabar hati? Bagaimana kabar jiwa? Semoga Tuhan senantiasa menguatkan dan membimbingmu J Amiin..
Untuk kali ini, bukan surat teruntuk siapa yang ingin aku tulis. Hanya ingin sedikit berbagi, entah kepada siapa kelak surat ini akan dibaca. Hanya ingin berbicara kepada hati, entah hati siapa kelak yang akan mendengarnya. Hanya ingin berbagi, itu saja.


(Sumber: abiummi.com)


Wahai hati,
Masihkah kau memikirkan tentangnya? Tentang beliau yang selama ini selalu kau elu-elu kan. Tentang rasa yang mungkin kau masih baru merasakannya, disaat teman-teman seusiamu telah memiliki rasa itu jauh sebelum dirimu. Masihkah?
Wahai hati,
Masihkah kau menduga-duga? Menduga apakah beliau pun memiliki rasa yang sama. Menduga apakah rasa itu adalah takdirmu kelak. Masihkah?
Wahai hati,
Ingatlah, masih ada Tuhan tempatmu meminta. Meminta segala petunjuk dan kebenaran. Jangan sampai kau lupa terhadap-Nya. Ingatlah, masih ada mimpi dan cita yang harus dikejar. Masih ada harapan dari orang-orang yang menanti kesuksesanmu. Dan ingatlah, masih ada diri yang menunggu untuk diperbaiki. Masih ada diri yang menunggu untuk dipantaskan. Itulah dirimu.


(Sumber: abiummi.com)

Wahai diri,
Jikalau memang beliau adalah teladan bagimu, benar-benarlah meneladaninya. Kecerdasan, keramahan, dan kesederhanaan yang ada dalam dirinya. Namun, jika rasa yang kau simpan untuknya malah membuatmu semakin lupa akan kewajiban sebagai penuntut ilmu, berarti kau belum benar-benar menjadikannya sebagai teladan. Dan, berhati-hatilah. Segera buang rasa itu. Mungkin itu penanda bahwa rasa yang kau miliki adalah rasa yang salah. Bukan rasa yang Tuhan anugerahkan kepadamu, melainkan rasa itu muncul dari nafsu dan godaan syaitan belaka.
Wahai hati,
Janganlah kau terlena. Janganlah kau tertipu. Terlena dan tertipu oleh nafsu yang mengatasnamakan rasa ini. Rasa yang mungkin mulai membuatmu ketakutan. Takut jika ini semua adalah kesalahan. Takut jika belum saatnya rasa ini untuk ditempatkan. Takut jika rasa ini bukan rasa yang benar, bukan rasa yang datang dari-Nya. Takut jika rasa ini hanya berasal dari nafsu belaka yang berselimutkan kata rasa. Kau pun mungkin tak berani menyebutnya. Takut jika rasa ini membuatmu berfikir terlalu jauh ke depan tanpa ada usaha apapun untuk memantaskan diri untuk berhak merasakan rasa.
Wahai hati,
Sibukkanlah diri dengan hal-hal yang baik dan positif. J


(Sumber: www.katakatagambar.com)

Teruntuk Sang Pemiliki Hati, ‘Ini sedang mendoa, entah siapa nama dalam doa. Ini sedang merindu, entah siapa yang ada dalam rindu.’
Yogyakarta, 31 Mei 2016 
09:32:00 PM
ttd 
Sahabat Sang Hati



1 komentar:

  1. kok aku bisa nulis ini ya? ahahay
    btw.. ini adalah naskah artikel (sebut aja surat) yang aku ikutsertakan dalam salah satu lomba menulis artikel yang bertemakan "Cinta"
    kok di posting? biar .. ehehehe

    BalasHapus